Kategori: Berita Cetak

Menyuarakan Suara OYPMK dan Penyandang Disabilitas Melalui Foto

Sepasang lalat sedang asyik-asyik. Banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap orang yang pernah mengalami kusta dan penyandang disabilitas padahal kami pun membutuhkan pasangan hidup. Kami ingin membangun keluarga yang bahagia dan turut serta menciptakan masyarakat yang harmonis. Firmansyah.

Photo dan caption diatas merupakan ungkapan keprihatinan dari orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK). Penyandang disabilitas dan OYPMK seringkali dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum, dianggap tidak mampu, dianggap mudah tersinggung, hingga dianggap kutukan. Sepuluh foto dalam slide ini adalah karya dari peserta pelatihan Photovoice yang mewakili suara OYPMK dan Penyandang Disabilitas. Foto-foto ini secara simbolik menggambarkan situasi kehidupan mereka saat ini dan harapan mereka terhadap masa depan.

NLR Indonesia mengadakan Pelatihan Photovoice bagi mitra organisasi lokal pada tanggal 18-21 Desember 2017 di Solo, Jawa Tengah. Photovoice merupakan metode advokasi yang mengkombinasikan antara seni fotografi dan jurnalisme dengan mengangkat suatu isu dengan tujuan menginisiasi terjadinya perubahan sosial. 

Peserta merasakan manfaat dari pelatihan Photovoice ini khususnya dalam menyampaikan aspirasi kepada pemangku kebijakan yang tidak mudah diungkapkan secara lisan. Fokus pada foto dapat membantu mereka yang sering merasa tidak mampu atau tidak nyaman dalam mengungkapkan pendapat secara lisan. 

“Training photovoice sangat membantu kami dalam menyampaikan aspirasi kepada pemangku kebijakan, yang biasanya kami segan berbicara tapi melalui foto kami bisa menuliskan aspirasi kami” Reza Mahmud, Perhimpunan Mandiri Kusta – Sulawesi Selatan.

“Photovoice memberikan ruang bagi siapa saja untuk mengungkapkan pendapatnya yang kadang susah untuk diucapkan. Photovoice menjadi media untuk bisa berbagi informasi dengan semua orang melalui foto”. Martina Majid – Yayasan Perempuan BESKAR Bone

Melalui kegiatan ini, NLR bersama mitra organisasi lokal berharap lebih banyak orang yang mengetahui hak-hak OYPMK dan penyandang disabilitas serta melakukan perubahan sosial untuk lingkungan yang lebih inklusif bagi OYPMK dan penyandang disabilitas.

 

Kebun Inklusi untuk pengurangan stigma dan diskriminasi

Pada tahun 2017, NLR Indonesia mengembangkan sebuah Program Inovatif yang merupakan sebuah konsep untuk memfasilitasi mitra organisasi NLR Indonesia dalam mengembangkan kegiatan yang bersifat kebaruan dalam hal pengetahuan, cara, obyek, metode dan penemuan bagi penanganan kusta, baik dari aspek penanganan penyakit maupun aspek sosial-inklusi orang yang pernah mengalami kusta. Salah satu hal penting dalam program Inovasi adalah pelibatan multi sektor dalam pelaksanaan dan pelibatan aktif orang yang pernah mengalami kusta dan keluarganya, masyarakat/komunitas guna mendapatkan keberlajutan di wilayah kegiatan.

Yayasan BESKAR mengembangkan program pemberdayaan Orang yang pernah mengalami kusta di Desa Abbumpungeng, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, Propinsi Sulawesi Selatan. Desa Abbumpungeng memiliki 4 Dusun, Salah satunya adalah Dusun Lerang II yang pada masa lalu digunakan sebagai pusat rehabilitasi dan komplek penampungan pasien kusta. Meski saat ini sudah tidak ditemukan kasus kusta baru, peristiwa masa lampau tersebut masih memberikan stigma yang melekat pada dusun Lerang II dan warganya.

Ada tiga kegiatan yang sudah dilakukan yaitu, pertemuan antar kampung, diskusi kampung dan pelatihan perkebunan pemanfaatan lahan pekarangan. Dalam setiap kegiatan tersebut Yayasan Beskar selalu melibatkan SKPD-SKPD terkait. Hasil dari keterlibatan SKPD diantaranya adalah Dinas Sosial akan melakukan pelatihan vokasional, dinas perhubungan akan memberi pelatihan pengelolaan pupuk kandang, serta kepala desa akan mengalokasikan anggaran awal untuk perkebunan inklusi sebesar Rp. 5.000.000,-

Melalui kegiatan pertanian dan lingkungan hidup “Kebun Inklusi”, Yayasan BESKAR bekerjasama dengan Pemerintah Desa serta tokoh masyarakat menyampaikan pesan-pesan sosial untuk mengurangi dampak stigma dan diskriminasi penyakit kusta di masyarakat.

Kebun inklusi dan pengelolaan lingkungan hidup menjadi pintu masuk yang efektif, karena sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal masyarakat Desa Abbumpungeng, dimana sektor pertanian menjadi komoditi utama warga desa. Pemerintah desa telah memberikan dukungan dengan menyiapkan lahan seluas 10 are untuk dikelola bersama dan dukungan pendanaan melalui anggaran desa yang bisa digunakan untuk pemeliharaan dan perawatan kebun. Kebun inklusi akan dilekola bersama oleh warga dengan mengedepankan perinsip gotong-royong dan inklusi. Kebun Inklusi ini terletak di depan jalan masuk ke Dusun Lerang II, yang diharapkan mampu mengubah wajah Desa Lerang II sehingga pandangan stereotip tentang komplek kusta lambat laun akan berubah.

Penandatangan Memorandum Saling Pengertian (MSP) dengan Kementerian Kesehatan RI

akarta, senin 09 Juli 2018, bertempat di Hotel JS Luwansa dilakukan Penandatangan Memorandum Saling Pengertian (MSP) kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI dengan Netherlands Leprosy Relief. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes, beserta perwakilan Subdit KUSTA, Subdit Gangguan Indera dan Fungsional serta Biro Kerjasama Luar Negeri menyaksikan penandatangan MSP antara Kemenkes RI dengan NLR.

Penandatanganan MSP dilakukan oleh Sekretaris Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Asjikin Iman H. Dachlan dengan Jan van Berkel, Direktur Netherlands Leprosy Relief. Kesepakatan Bersama ini bertujuan untuk melaksanakan upaya pencegahan penularan penyakit kusta dan pembangunan yang inklusif bagi penyandang disabilitas akibat kusta.

Penandatanganan MSP ini merupakan komitmen Netherlands Leprosy Relief untuk terus mendukung tercapainya Roadmap Eliminasi kusta di Indonesia, melalui berbagai uji coba pendekatan inovatif untuk penemuan dini kasus kusta antara lain implementasi program LPEP dan PEP++,  menyediakan pendampingan teknis untuk staf teknis di provinsi dan di tingkat nasional serta mengembangkan strategi untuk kegiatan promosi kesehatan dengan perhatian khusus pada perempuan dan anak.

dr. Asjikin Iman H. Dachlan mewakili Pemerintah Republik Indonesia menyambut baik upaya ini dan berharap dengan penandatanganan kesepakatan bersama ini Kemenkes dan NLR Indonesia dapat meningkatkan upaya-upaya pencegahan dan pengendalian kusta. Beliau menyatakan bahwa tujuan utama kerja sama antara Kemenkes dan NLR adalah mendukung ROADMAP Pengendalian Kusta Nasional. Kementerian Kesehatan bersama NLR juga bekerjasama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kusta sehingga mengurangi stigma tentang kusta di masyarakat.

Dalam kesempatan ini Direktur NLR, Jan van Berkel menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kesehatan atas kerjasama dengan NLR, khususnya atas keberhasilan pilot project LPEP di kabupaten Sampang dan Sumenep Jawa Timur. Project LPEP terbukti dapat mencegah risiko penularan kusta dengan memberikan obat single dose rifampicin (SDR) kepada kontak terdekat yang berhubungan erat dengan pasien kusta. Melalui project ini pemerintah Indonesia bersama dengan NLR menghasilkan bukti-bukti yang oleh WHO telah dimasukkan dalam pedoman pertama untuk diagnosis, pengobatan dan pencegahan kusta (Guidelines for the diagnosis, treatment and prevention of leprosy). Jan van Berkel menyatakan kerjasama ini merupakan satu langkah maju untuk mempercepat upaya menghentikan penularan penyakit kusta serta meningkatkan partisipasi orang yang pernah mengalami kusta dalam kehidupan bermasyarakat.