Kategori: Berita Elektronik

Kusta Bukan Faktor Kutukan

Surabaya – Kusta merupakan penyakit kulit di dunia dan hingga kini masih belum bisa teratasi. Di Indonesia saja jumlah penderita kusta masih cukup banyak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jawa Timur di Surabaya, Jumat, mengatakan penderita kusta di Jawa Timur paling banyak berada Madura,Sumenep, Sampang dan Bangkalan.

“Status penderita kusta di Jatim sudah berstatus eliminasi provinsi. Artinya kasus pravalensinya kurang dari 1/10.000 penduduk, di Jatim sudah 0,9 persen.

Ia mengemukakan bahwa Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi jumlah penderita penyakit kusta, antara lain lewat upaya penemuan dini kasus, dan pengobatan serta penghapusan stigma pada pasien kusta.

“Biasanya kalau ada yang sakit kusta di sekitarnya akan ada, karena penularan melalui kontak erat,” katanya.

Kusta atau lepra adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobaterium leprae. Penyakit ini menyerang berbagai bagian tubuh termasuk saraf dan kulit menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan.

Bila tidak segera ditangani, kusta bisa menjadi sangat progresif dan mengakibatkan kerusakan kulit, saraf, anggota gerak dan mata.

Namun penyakit ini tidak menyebabkan pelepasan anggota tubuh dengan mudah sebagaimana mitos yang beredar dalam masyarakat. Gejala penyakit kusta antara lain keberadaan bercak putih atau merah di kulit yang tidak gatal, tidak nyeri, tetapi baal (kurang rasa atau mati rasa).

“Seperti contoh Bapak Mukrim terkena penyakit kusta sejak tahun 1984 saat di Sekolah Dasar dan dinyatakan sembuh total tahun 1990 di dusun bukit jerawat Surabaya,(19/5).

“Awal mulanya penyakit kusta ada tanda flek di bagian kaki seperti Senilai uang logam 100 namanya juga penyakit tidak terasa kayak mati rasa begitu.

Meski harus mengubur impiannya untuk tumbuh dan berkembang seperti anak-anak sebayanya, ia tak pernah berputus asa. Ia menerima semua takdir yang telah digariskan kepadanya.

“Buat apa putus asa, semua ada hikmahnya. Kita harus optimis menjalani hidup bagaimanapun keadaan kita,” imbuhnya.

“Saya memberanikan diri untuk melawan stigma yaitu keluar dari kampung ke kampung untuk jualan buah, akhirnya saya timbul kepercaya, mulai dari tahun 1991 untuk berjualan pakaian di toko.

Penghasilan saya berjualan pakaian sama dengan teman saya yang berjualan pakaian,” ucapnya Mukrim.

Mukrim mengatakan, untuk melawan stigma di masyarakat harus membutuhkan keberanian dan perjuangan yang luar biasa untuk bertatap langsung dengan tetangga, maupun masyarakat umum.

Mukri kenal dengan Siti Rukaya yang sekarang menjadi istri sewaktu di Rumah Sakit Kusta Kediri, yang sama-sama berobat.

“Sekarang saya dipercaya memegang suatu organisasi LDII, saya sekarang dipercaya untuk membina dua Kecamatan yaitu 600 orang anggota LDII,” tutup Mukrim.

”Yang perlu kita waspadai adalah Indonesia penyumbang kusta ke-3 di dunia. Kelainan pada kusta ini mirip dengan penyakit lain, seperti panu, kurap, dan kaligata.

Bagi mereka yang terkena kusta pengobatan yang efektif dengan diberikan multi drug treatment (MDT) yang tersedia gratis di Puskesmas dan beberapa rumah sakit.

Lama pengobatan 6 bulan untuk tipe PB (pausibasiler), dan 12 bulan untuk tipe MB (multibasiler).

Tujuan dari pengobatan adalah memutus rantai penularan, mencegah cacat atau menangani agar cacat tidak berlanjut, menangani komplikasi, memperbaiki kualitas hidup penderita.

Kusta tidak identik dengan cacat, kusta dapat diobati, temukan tanda dan gejala dini kusta, hilangkan stigma dan diskriminasi.(TH)

https://www.lensanasional.co.id/news/2019/05/19/kusta-bukan-faktor-kutukan/

Warnoto dan Hanifah : Cinta Bersemi Karena Kusta

SURYA.co.id | SURABAYA – Warnoto (51) baru pulang dari merawat tanaman jagung yang dia tanam di lahan Liponsos Babat Jerawat, Surabaya, saat reporter Surya tandang ke rumahnya, Minggu (19/5/2019) siang.

Di rumah sederhana berdinding hijau di kawasan kampung Bukit Jerawat Asri itu, dia sudah ditunggu pula oleh istri dan putri bungsunya.

“Selain merawat jagung, saya sehari-hari juga ngojek,” kata Warnoto.

Warnoto dan istrinya, Hanifah, sudah 9 tahun menempati rumah berukuran 12×7 meter tersebut. Lahan untuk mendirikan rumah ini dibeli Warnoto pada 2005 seharga Rp14,5 juta.

Selanjutnya, Rumah itu setahap demi setahap mereka bangun dari penghasilan yang mereka dapat sehari-hari dari bekerja serabutan. Hanifah menyebut, pembangunan rumah itu sampai sekarang masih belum rampung.

“Dulu mulai menempati rumah ini tahun 2010, tapi dibangunnya mulai 2005. Pokoknya begitu sudah ada tutupnya, rumah ini langsung kami tempati,” timpal Hanifah.

Warnoto dan Hanifah adalah secuil kisah kecil dari romansa kehidupan orang-orang yang terpapar kusta. Boleh dibilang, kusta adalah yang membuat mereka bertemu, jatuh cinta, menikah, lalu kini punya 5 anak.

Melompat jauh ke belakang, Warnoto adalah pria asli Pemalang, Jawa Tengah. Dia ‘terdampar’ ke Surabaya karena kusta.

Alkisah, pada 1987 setelah lulus SMP, Warnoto merantau ke Jakarta. Dia terpaksa tak melanjutkan sekolah karena tak punya biaya.

Di Jakarta, dia bekerja di sebuah perusahaan konveksi. Di perusahaan itu dia bertugas menjahit. Kemampuan menjahit dia peroleh dari belajar secara otodidak di kampungnya.

“Di kampung saya banyak penjahit,” kata Warnoto.

Di perusahaan konveksi itu Warnoto hanya sebentar bekerja. Bosnya memilih memecat dia tanpa pesangon setelah tahu bahwa Warnoto memiliki kusta. Bila pemecatan itu diterapkan saat ini, jelas ini melanggar pasal 153 ayat 1 UU Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003.

Perihal kusta tersebut, Warnoto memang menyimpannya rapat-rapat. Dia sudah tahu sejak kelas 2 SMP bahwa ada kusta di tubuhnya.

“Saya tahu kena kusta waktu pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan. Di situ ditunjukkan ciri-ciri kusta. Saya langsung keringat dingin karena ciri-ciri yang disebutkan mirip dengan yang ada di tubuh saya,” kenangnya.

Dari perusahaan konveksi pertama, Warnoto pindah ke perusahaan konveksi lainnya. Namun, Lagi-lagi dia dikeluarkan karena kusta.

“Pokoknya 3 kali kerja di konveksi tapi dipecat karena kusta,” imbuhnya.

Setelah dipecat, Warnoto masih memilih bertahan di Jakarta. Dia menyambung hidup dengan membantu kerabatnya berjualan sayur. Namun ini hanya bertahan 6 bulan karena telapak kakinya terluka parah karena terlalu sering kena panas mesin mobil pikap.

Dia mengaku, kusta yang sudah menjalar di kakinya membuat telapak kakinya itu mati rasa dan tak tahu bahwa panas mesin mobil sudah melukainya cukup parah.

Dari kejadian itulah Warnoto berobat ke RS Sitanala di Tangerang, Banten. Selama 3 bulan dia dirawat di sana bersama sekitar 500 pasien lain yang menempati barak khusus kusta.

Setelah dinyatakan boleh meninggalkan RS, Warnoto kembali ke Jakarta dan bekerja di sebuah bengkel las milik sepupunya. Namun itu hanya berlangsung 1 tahun karena merasa tak cocok.

Sepertinya Jakarta memang tak cukup baik untuk Warnoto. Dia pun memilih pergi ke Jawa Timur, ke tanah Kediri. Di sana dia datang ke RS khusus kusta untuk meminta obat.

Dari situlah dia mengetahui keberadaan Liponsos Babat Jerawat di Surabaya yang dihuni oleh banyak orang-orang yang sudah sembuh dari kusta.

“Saya lalu ke Surabaya, melapor ke Dinsos, dan akhirnya tinggal di Liponsos,” ujarnya.

Nah, di Liponsos inilah dia bertemu dengan Hanifah, perempuan asal Bangkalan Madura yang juga pernah menjalani pengobatan kusta.

Perempuan yang tak tahu persis tahun kelahirannya ini mengatakan, dia diketahui memiliki kusta ketika sudah beranjak remaja.

“Waktu itu ada flek-flek putih di tangan dan seperti mati rasa. Setelah diperiksakan ternyata kusta,” kata Hanifah.

Oleh keluarganya, Hanifah lalu dibawa ke rumah sakit. Seperti halnya Warnoto, dia pun tahu keberadaan Liponsos Babat Jerawat dari orang-orang lain yang juga terpapar kusta.

“Jadi kami ketemunya di Liponsos dan menikah di sana juga. Sekarang sudah punya anak 5. Yang nomer 1 sudah kerja, yang nomer 2 kuliah sambil kerja,” pungkasnya.

 

Stigma dan Diskriminasi

Kisah pemutusan kerja yang dialami Warnoto karena kusta adalah sebagian kecil dari praktik pemberian stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang terkena kusta di Indonesia.

dr Udeng Daman, Technical Advisor  NLR (until No Leprosy Remains) Indonesia, mengatakan bahwa stigma negatif terhadap orang yang terpapar kusta sudah berlangsung sejak lama.

Bahkan katanya, kisah-kisah dari berbagai agama, menceritakan ada penderita kusta yang dikucilkan. Ironisnya, praktik diskriminasi semacam itu masih berlangsung hingga kini.

“Ibaratnya, mereka yang kena kusta itu sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah sakit, tapi masih didiskriminasi. Sudah fisiknya difabel, tapi sama masyarakat, hak-hak sosialnya juga dibuat difabel,” katanya.

Dia menjelaskan, di Indonesia diperkirakan ada 15.000 pengidap kusta. Dari angka itu, sekitar 3 ribu orang ada di Jawa Timur. Di antaranya Sumenep, Pamekasan, Sampang, serta sejumlah daerah di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa dan kawasan Tapal Kuda.

“Di Jawa Timur memang sudah ada eliminasi. Tapi kita nggak boleh puas. Targetnya adalah zero kusta,” lanjutnya.

Udeng mengakui, stigma dan pandangan yang salah di masyarakat terhadap kusta menjadi tantangan tersendiri dalam mencapai target tersebut.

“Karena takut kena stigma, mereka yang terkena kusta malu, tidak berani berobat, lalu sembunyi. Begitu sudah cacat, baru muncul. Inilah yang menyulitkan proses eliminasi itu,” keluhnya.

Udeng menjelaskan, kusta bukanlah penyakit karena dosa atau kutukan. Selain itu dia juga menegaskan bahwa kusta bisa diobati. Dan bagi mereka yang sudah diobati, tidak akan menularkan penyakit itu ke orang lain.

“Jadi jangan takut bersalaman atau bersentuhan dengan orang yang sudah diobati kustanya. Lagipula, kusta tidak menular semudah itu. Berdasarkan data, 100 orang yang berpotensi tertular, 95 persen dinyatakan kebal, lalu sisanya sakit. Dari yang 5 orang yang tertular itu, tiga di antaranya juga dinyatakan sembuh,” pungkasnya.

 

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Warnoto dan Hanifah : Cinta Bersemi Karena Kusta, https://surabaya.tribunnews.com/2019/05/20/warnoto-dan-hanifah-cinta-bersemi-karena-kusta?page=all.

Penulis: Eben Haezer Panca

Editor: Eben Haezer Panca

Stigma yang Mengucilkan Oyapita

Metro Times (Surabaya) – NLR (until No Leprosy Remains) sebuah organisasi yang bekerja untuk pencegahan penularan dan pengurangan resiko kusta serta pemberdayaan penyandang disabilitas.

NRL mengadakan pelatihan JURNALISTIK yang bekerja sama dengan Mimi Institute dan Diffa magz.

“Pelatihan jurnalistik ini kami lakukan untuk berbagi pengetahuan kepada rekan-rekan jurnalis, mengenai sentisisasi terhadap pasien dan orang yang pernah mengalami kusta serta penyandang disabilitas,” jelas dr. Rudeng.

Stigma dan diskriminasi terhadap mereka masih sangat kuat di Indonesia, lanjut dr. Rudeng, kami menilai peran jurnalis dan media akan menjadi sangat penting dalam upaya pengurangan stigma dan diskriminasi melalui pengarus utamaan dan pemberitaan yang tepat tentang mereka.

“mengurangi stigma terhadap orang yang pernah menglami kusta dan penyandang disabilitas”

Sementara dr. Setya Budiono, Kabid P2P Dinas Kesehatan Jawa Timur, dalam sambutan pembukaan acara pelatihan, mengatakan, kusta di Jawa Timur adalah penyumbang terbesar penyakit kusta yang ada di Indonesia. Jadi lebih dari 25% hampir 30% penderita kusta di Indonesia ada di Jawa Timur.

“Teman-teman jurnalis punya kesempatan besar untuk membantu para OYAPITA (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) yang pernah terinfeksi kusta. Mereka sebetulnya tidak punya potensi untuk menular karena sudah sembuh, tapi kecacatan yang didapatkan nempel terus, sehingga disebut ini orang kusta. Sampai meninggal pun kuburannya masih di tandai ini kuburannya orang kusta, sehingga tidak boleh di gabung dengan kuburan umum,” paparnya.

“Kami berharap banjir informasi yang benar ini bisa berasal dari teman-teman jurnalis yang ikut pelatihan disini, khususnya untuk kusta dan disabilitas. supaya nanti teman-teman OYAPITA, dan keluarga yang menderita, atau siapa pun yang terkait dengan kusta itu jadi paham. Dan informasi yang benar ini menimbulkan sikap yang benar, maka tidak ada lagi stigma,” pungkas dr. Setya. (nald)

https://metrotimes.news/breaking-news/stigma-yang-mengucilkan-oyapita/