Program Pengurangan Stigma dan Diskriminasi

Target 2018-2020: merancang dan menerapkan model yang efektif untuk menghapuskan stigma dan diskriminasi

Strategi

  1. Peningkatan kesadaran masyarakat
  2. Pemberdayaan untuk penghapusan stigma dan diskriminasi
  3. Pengembangan bukti partisipatif
  4. Peningkatan ketahanan diri

Penerima Manfaat

  • 2.500 orang termasuk penyandang disabilitas dan orang yang mengalami kusta.
  •  3.700 mitra kerja (?)

Mitra Kerja

  • 4 organisasi penyandang disabilitas
  • 1 LSM yang tersebar pada 3 propinsi (Jawa Tengah, Jawa Timur dan NTT)

 

Stigma merupakan akar penyebab lambatnya deteksi kasus kusta. Stigma diri yang dimiliki oleh orang yang mengalami kusta dan penyandang disabilitas secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup mereka. Di samping itu, stigma sosial juga masih prevalen dalam masyarakat terhadap orang yang mengalami kusta dan penyandang disabilitas, dan bahkan oleh petugas kesehatan.

Wanita yang menyandang disabilitas mengalami tantangan yang lebih karena masyarakat menganut nilai patriarkal di mana wanita tidak memiliki kedudukan yang sama dengan pria. Sebagai hasil, umumnya mereka mengalami diskriminasi ganda dan bahkan kekerasan karena keterkaitan nilai patriarkal tersebut dengan kekerasan (seksual) terhadap wanita dan remaja putri. 
Komite Nasional Perlindungan Perempuan Terhadap Kekerasan mencatat sebanyak 35% dari 10,961 kasus kekerasan terjadi pada wanita penyandang disabilitas pada tahun 2010 – 2012, yang artinya ditemukan sebanyak 1,278 kasus per tahun. Pengarusutamaan gender perlu meningkatkan fokus pada penyandang disabilitas. Bank Dunia memperkirakan sebanyak 24 juta penyandang disabilitas merupakan penduduk Indonesia. 
Kurangnya penelitian yang dilakukan terhadap stigma terkait kusta menandakan kurangnya perhatian terhadap stigma tersebut.

Informasi mengenai Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (Sexual and Reproductive Health Rights – SRHR) belum tersedia bagi wanita dan remaja putri penyandang disabilitas, termasuk yang mengalami kusta, sementara tidak banyak organisasi penyandang disabilitas yang bergerak untuk kepentingan wanita dan anak-anak. Kondisi ini menyebabkan wanita penyandang cacat berada dalam tingkat kerapuhan yang tinggi.