POST-EXPOSURE PROPHYLAXIS ++ (PEP++): Stop Transmisi Kusta

 

PEP++ merupakan kegiatan inovasi pemutusan rantai penularan kusta yang dilaksanakan oleh NLR di India, Brazil dan Indonesia.

PEP++ akan membuktikan penurunan dramatis dalam insiden kusta lewat kemanjuran rejimen profilaksis yang ditingkatkan.

Kegiatan inovasi PEP++ di Indonesia telah mendapat izin dari KEMENKES RI sebagaimana tertuang dalam izin penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan pada Oktober 2019.

 

Statistik Kusta di Indonesia

 

Indonesia menduduki ranking ketiga dari negara-negara paling endemis kusta di dunia, setelah India dan Brazil.

 

Pada tahun 2018, Indonesia melaporkan 17,017 kasus baru dan 6,6% di antaranya  memiliki  cacat  tingkat  dua  pada  saat diagnosis. Proporsi kasus anak di antara kasus baru adalah 10,9%.

 

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, deteksi penemuan kasus baru kusta di dunia mengalami stagnan berkisar antara 210.000 dan 220.000 per tahun.

 

Program Pengendalian Kusta: PEP dan PEP++

 

Upaya pengendalian Kusta selama ini dilakukan di bawah koordinasi Subdirektorat Penyakit Tropis Menular Langsung, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI.

Program Eliminasi Kusta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) no. 3.3 pada 2030, mengakhiri penyakit endemis AIDS, tuberculosis, malaria dan penyakit tropis terabaikan dan menanggulangi penyakit hepatitis dan yang berasal dari air dan penyakit menular lainnya.

Sejak 2015 telah dilaksanakan program inovasi PEP (Post-exposure Prophylaxis) yaitu pemberian obat pencegahan SDR (Single Dose Rifampicin) kepada kontak pasien kusta untuk mengurangi resiko penularan kusta. Kegiatan inovasi PEP-SDR atau kemoprofilaksis kusta telah diadopsi dan tertuang dalam PERMENKES RI No. 11 Tahun 2019 tentang Penanggulangan Kusta.

 

Sementara PEP++ adalah peningkatan dari PEP-SDR dari aspek rejimen obat, strategi deteksi dini kusta, strategi perubahan perilaku masyarakat tentagn kusta dan pemanfaatan teknologi untuk pemetaan wilayah intervensi berdasar keberadaan index kasus.

 

PEP++ =

Peningkatan efektivitas PEP dengan rejimen obat tambahan dg penurunan kasus baru hingga 50% pada 2024

Peningkatan pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang kusta

Peningkatan deteksi dini

Pemanfaatan teknologi GIS dalam penetapan kluster indeks kasus

Efektivitas penurunan resiko tertular sebesar 80-90%.

PEP++ dalam SIMCOLEP

 

SIMCOLEP adalah prediksi hasil penghitungan model matematika terhadap per individu oleh Erasmus MC (Universitas Pusat Medis, di Rotterdam Belanda) untuk menunjukkan berbagai intervensi pengendalian kusta dan memprediksi dampaknya pada penemuan kasus baru di masa yang akan datang.

 

Model SIMCOLEP, menampilkan efek yang diharapkan dari PEP++, dengan dan tanpa berbagai tingkat cakupan komunitas dengan SDR-PEP, pada kejadian kusta

 

PEP++ dalam SIMCOLEP

 

SIMCOLEP adalah prediksi hasil penghitungan model matematika terhadap per individu oleh Erasmus MC (Universitas Pusat Medis, di Rotterdam Belanda) untuk menunjukkan berbagai intervensi pengendalian kusta dan memprediksi dampaknya pada penemuan kasus baru di masa yang akan datang.

 

 

SIMCOLEP menunjukkan kombinasi intervensi blanket di kantong Kusta endemis tinggi dan pemberian pengobatan profilaksis pada individu dengan infeksi subklinis menggunakan rejimen   PEP++   dapa menurunka angka   kasus   baru   Kusta   secara substansial dalam kurun waktu 5 tahun.

 

Kegiatan PEP++ menargetkan capaian cakupan antara 20% hingga 50% pada populasi berisiko pada klaster kasus baru sebagai kantong endemis tinggi Kusta.

 

 

 

 

 

Wilayah PEP++ di Kabupaten Pamekasan, Kabupaten dan Kota Pasuruan di Provinsi Jawa Timur

Terdapat sekitar 600 kluster yg akan diintervensi oleh PEP++ di 3 wilayah. Target intervensi: 162.000 orang (44.000 kontak dekat dan 118.000 kontak lain secara menyeluruh/blanket)

 

 

 

Kegiatan Persiapan yang telah Dilakukan (2018 – Juli 2020)

·      Studi Persepsi di Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Pasuruan dan Kota Pasuruan di tahun 2018 dan telah diseminasikan pada Kongres Kusta Inetrnational yang Ke-20 pada bulan September 2019 di Manila.

·      CNA (Community Need Assessment) yaitu penilaian kebutuhan komunikasi yang selain study persepsi juga digunakan sebagai landasan untuk mengembangan media CEBC (Community Education and Behavior Change).

·      Mapping Kasus Indeks dari tahun 2014-2019 sebanyak…..di Kabupaten Pamekasan, dan ……di Kabupaten dan kota Pasuruan.

·      Analisis kluster dari total……jumlah kasus indeks di ketiga tempat penelitian dan sebanyak ……kulster telah dibuat.

·      Pengembangan media CEBC berupa Poster, Slide Presentasi, Lembar balik, Video, 2 macam buku saku untuk petugas dan Tokoh Agama, dan kalender.

·      Pelatihan dan Percobaan managemen data menggunakan Red-Cap oleh Asisten Peneliti yang ditempatkan di Kabupaten Pamekasan dan Kota Pasuruan.

 

 

 

 

PEP++ dan Outcome yang diharapkan

 

 

Secara singkat, kegiatan PEP++ dapat dilihat pada table di bawah ini.

 

Nama Program

PEP++: Stop Transmisi Kusta

Donor

National Postcode Lottery (NPL)

Wilayah Studi yang terlibat pada Multi-center PEP++ (Kab/Negara)

1.       Chandauli dan Fatehpur di Uttar Pradesh (India)

2.       Fortaleza dan Sobral di Ceara State (Brazil)

3.       Kabupaten Pamekasan, Kabupaten dan Kota Pasuruan di Provinsi Jawa Timur (Indonesia)

Durasi Program

5 tahun

Tujuan Program

Memutus penularan kusta di area intervensi yang pada akhirnya akan mencapai 0 penemuan kasus baru

Partner Indonesia

NLR Indonesia, Kementerian RI beserta BALITBANGKES, Tim PI dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya, co-PI dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan, dan Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota Pasuruan.

Manfaat Program

Semua kontak yang memenuhi syarat di daerah intervensi dan control dari Kabupaten Pamekasan, Kabupaten dan Kota Pasuruan dari kasus indeks yang telah terdata dari tahun 2014-2019