Telp : 021 38833670   I Cibubur Indah III Blok E No.2, Jl. Jambore Raya, Cibubur,  Jakarta Timur

            I    English 

BLOG KAMI

Cerita Inspiratif | NLR Indonesia
dr. Sioly Soempiet

Dulu Kusta, Kini Asa

Oleh dr. Sioly Soempiet

Berawal dari insiden yang dialami oleh anak bungsunya (6) tahun pada 2013, saat itu lengan kanan anaknya terbakar lilin namun tidak berasa sakit. Hal ini membuat Ibu Anita heran. Segera ia membawa anaknya ke Puskesmas Ulu, Sulawesi Utara.

Paulan Aji

Geliat Desa Inklusi Lapeom di Timor Tengah Utara, NTT

Oleh Paulan Aji

Menurut Permendesa No.6 Tahun 2020, Desa Inklusi merupakan sebuah pendekatan pembangunan yang menjadikan pembangunan desa bersifat terbuka, aman, nyaman.

Janet Matani

PEP Blanket Monitoring & Learning Journal

Oleh Janet Matani

Dokumentasi dan refleksi dari kegiatan pemberian obat pecegahan kusta, PEP Blanket, di Pulau Bunaken, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara 8-12 Juni 2026

Baca Selengkapnya
Paulan Aji

Bertemu Pemuda Inspiratif

Oleh Paulan Aji

Belum lama ini saya bertemu seorang pemuda, Iman namanya. Pemuda berusia 37 tahun ini pernah mengalami kusta di tahun 1999 saat berusia 8 tahun. Ia berobat selama satu tahun hingga sembuh. Berbagai tindak diskriminasi dan buli pernah dialaminya...

×

Dulu Kusta, Kini Asa

Oleh dr. Sioly Soempiet

(Teks deskripsi lengkap menyusul)

×

Geliat Desa Inklusi Lapeom di Timor Tengah Utara, NTT

Oleh Paulan Aji

Paulan Aji

Menurut Permendesa No.6 Tahun 2020, Desa Inklusi merupakan sebuah pendekatan pembangunan yang menjadikan pembangunan desa bersifat terbuka, aman, nyaman, dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya termasuk warga Desa penyandang disabilitas.

Hal ini masih diperjuangkan oleh Desa Lapeom sejak diakui sebagai desa inklusi oleh Kementerian Desa RI pada 2020. Kepala Desa Lapeom, Daminaus Sengkoen (27) menyampaikan berbagai kegiatan pengambilan keputusan mengikutsertakan pengurus lingkungan (RT/RW), tokoh adat, kelompok disabilitas, rentan dan marginal.

“Ada sejumlah 60 warga dengan disabilitas dan dua orang yang pernah mengalami kusta. Mereka juga warga Desa Lapeom dan perlu dibantu agar dapat hidup dengan sejahtera,” ungkap kepala desa termuda di Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT.

Damianus menambahkan ada rencana di tahun 2025 bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas. Rumah mereka akan difasilitasi bidang miring dan akses yang keluar-masuk rumah yang layak. Selain itu, akan dibangun sebuah gedung khusus untuk mengakomodasi berbagai kegiatan dari kelompok disabilitas di Desa Lapeom.

“Aksesibilitas menjadi vital bagi warga desa dengan disabilitas. Mereka bisa bergerak keluar rumah untuk melakukan berbagai aktivitas. Kita perlu memastikan hal ini,” kata Damianus.

Di samping sarana fisik yang didanai dana desa, pemerintah desa akan meningkatkan bantuan modal usaha bagi kelompok disabilias dan rentan untuk pengembangan usaha mereka. 15 kelompok usaha ini telah menghasilkan kerajinan berupa kain tenun dan aksesoris. Pemdes juga memberi bantuan berupa benang dan mesin jahit.

Dokumentasi Lapeom 3

Desa Lapeom memiliki kader inklusi yang terdiri dari 5 perempuan. Mereka dipilih berdasarkan komitmen dan keaktifan di desa. Dalam kesehariannya, lima kader inklusi ini mendampingi sejumlah kelompok seperti kelompok usaha tenun, kelompok disabilitas, kelompok bermain anak, kelompok lansia dan posyandu remaja.

Sebagai kepala desa yang baru sekitar satu tahun dilantik, Damianus berkomitmen untuk memberi ruang seluasnya bagi warga desanya dengan berbagai ciri dan kekhususan untuk berpartisipasi secara penuh. Keberadaan semua warga dengan kekhususannya diakui dan dihargai serta difasilitasi agar semua warga memiliki kesempatan yang setara.

Satu kebijakan yang diambil Kepala Desa Damianus di awal tahun 2024 adalah mempekerjakan seorang ibu muda yang menjadi orang tua tunggal yaitu Selfi.

Di usia ke 21 ini, Selfi harus berjuang membesarkan putranya, Rian (4) yang sudah belajar di PAUD. Selfi termasuk kelompok penyandang disabilitas yang juga mendapatkan bantuan usaha kecil dari Kementerian Sosial RI. Ia membuat kudapan seperti pisang dan roti goreng, yang dijajakan di sekolah dasar dekat rumahnya.

“Saya masuk kerja di Kantor Desa Lapeom pada jam 6 pagi. Saya menyapu dan mengepel lantai. Saya juga menyiram bunga di sekitar kantor. Setelah itu saya diijinkan menjual kue di sekolah sebentar saja,” ungkap Selfi yang membawa sekitar 50 potong kudapan setiap harinya ke sekolah.

×

Bertemu Pemuda Inspiratif

Oleh Paulan Aji

Paulan Aji

Belum lama ini saya bertemu seorang pemuda, Iman namanya. Pemuda berusia 37 tahun ini pernah mengalami kusta di tahun 1999 saat berusia 8 tahun. Ia berobat selama satu tahun hingga sembuh. Berbagai tindak diskriminasi dan buli pernah dialaminya. Pernah telapak kakinya dibakar puntung rokok dan ditertawakan karena ia tak merasakan rasa sakit terbakar. Pernah ia dibuli karena tangannya bengkok. Di sekolah teman-teman tidak mau meminjamkan pulpennya karena ia kena kusta. Ia sempat dihalangi masuk ke tempat ibadah karena luka kakinya akibat kusta mengotori lantai.

10 tahun dari awal kena kusta sampai menjelang mau masuk kuliah, ia tidak bisa menerima penyakit ini. Sangat depresi. Sampai sempat ia ingin bunuh diri.

Namun saat dirawat di RS Dr. Tadjuddin Chalid Makassar untuk perbaikan kaki yang terdampak kusta, ia bertemu dengan dan mendengar pengalaman dari teman-teman yang pernah mengalami kusta.

“Dari perjumpaan itu, saya belajar apa itu peer konseling, bagaimana teman-teman lain bisa keluar dari depresinya, dan dari situ saya membagikan cerita-cerita atau pengalaman orang yang senasib denga saya kepada teman-teman yang lain yang masih dalam pengobatan di Bulukumba,” kenangnya.

Selain itu, dukungan pihak lain yang peduli seperti NLR Indonesia dan Dinas Kesehatan Bulukumba membuka jalan baru baginya lewat pendirian forum Sipakatau Inklusi Bulukumba pada 20 November 2025. Di sini, bersama 14 orang yang pernah mengalami kusta dan disabilitas, Ia diberi ruang yang lebih untuk bisa berbicara dan menyampaikan aspirasi dan kebutuhan dari orang yang pernah mengalami kusta ke pihak terkait. Iman ditunjuk sebagai ketua Sipakatau.

Iman Bulukumba

Melalui Sipakatau, ia dilibatkan oleh dinas kesehatan setempat untuk melakukan sosialisasi tentang kusta dan konsekuensinya di 20 kelurahan. Ia juga bertemu dan berbagi semangat dengan pasien kusta dan mereka yang telah sembuh dari kusta. Ia mengajak mereka untuk bergabung dengan Sipakatau.

“Saya membantu memulihkan mental dari teman-teman yang pernah mengalami kusta termasuk menyusun strategi pemulihan hidup mereka. Ada sembilan orang yang sudah saya kunjungi dan mereka sudah berhasil bangkit,” tegasnya.

Baginya, konseling sebaya (peer counselling) antara sesama orang yang pernah mengalami kusta sangat efektif untuk mengangkat semangat yang sempat pudar dan menata hidup mereka kembali.

Kegiatan Sosialisasi

Dukungan sekitar juga sangat diperlukan. Sipakatau telah bermitra dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) setempat sehingga anggota Sipakatau dapat terjun membantu proses pengawasan pemilihan daerah. Forum ini juga membangun hubungan dengan dinas pendudukan dan pencatatan sipil, dinas sosial, DPRD, Baznas dan organisasi penyandang disabilitas.

“Kita bisa membantu anggota-anggota Sipakatau lewat hubungan yang baik dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah itu. Mereka bisa mengakses layanan-layanan dasar yang dibutuhkan,” pungkasnya.

Dokumentasi Forum Sipakatau

Yayasan yang bergerak dalam penanganan kusta dan dukungan pada inklusi disabilitas untuk mewujudkan kehidupan yang setara dan bermartabat

DUKUNGAN DARI :

Informasi Kontak

Cibubur Indah III Blok E No.2, Jl. Jambore Raya Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur 13720
021 38833670
info@nlrindonesia.or.id

Media Sosial

            

Kebijakan

Kebijakan Organisasi

"versi Bahasa Inggris"

WhatsApp Kami

Pengunjung Website

28,812

Copyright © 2026 NLR Indonesia. Powered by NLR Indonesia