Sejarah NLR Indonesia

Yayasan NLR Indonesia adalah sebuah yayasan nasional dan anggota Aliansi NLR, yang beroperasi di hampir 20 propinsi di Indonesia. Yayasan NLR Indonesia dibentuk pada tahun 2018 untuk melanjutkan pencapaian pemberantasan kusta yang telah dilakukan NLR sejak 1975.  

Yayasan NLR Indonesia bermitra dengan sejumlah organisasi yang menangani penyandang disabilitas, organisasi masyarakat sipil, institusi pendidikan, serta pemerintah lokal, kementrian, dan lembaga pemerintah. 

Yayasan NLR Indonesia mempromosikan dan menguatkan deteksi dini dan perawatan kusta. Selain itu juga mempromosikan pencegahan disabilitas akibat kusta  melalui deteksi dini dan perawatan dini. NLR bekerjasama dengan dan membantu organisasi-organisasi orang yang pernah mengalami kusta dan penyandang disabilitas agar mampu meruntuhkan penghalang terhadap penerimaan masyarakat yang menyebabkan mereka tidak dapat berpartisipasi secara penuh dan Mandiri di masyarakat.

Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan visi NLR yaitu sebuah dunia yang bebas kusta dan inklusif, termasuk di Indonesia. Visi ini diwujudkan dengan mempromosikan dan mendukung kesehatan, kepasitas dan penerimaan yang utuh di dalam masyarakat terhadap orang yang sedang dan pernah mengalami kusta dan disabilitas.

Sekilas tentang NLR

Cikal bakal Yayasan NLR Indonesia bermula dari NLR yaitu sebuah organisasi non-pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta.

NLR didirikan di Belanda pada 30 Maret  1967 dan sekarang bekerja dalam 20 negara di seluruh dunia.  NLR merupakan anggota dari ILEP (International Federation of Anti-Leprosy Associations / Federasi Internasional Organisasi-organisasi Anti-Kusta,

NLR memulai kegiatannya di Indonesia pada tahun 1975 dengan memberikan bantuan ke Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya, kemudian berlanjut ke Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Kegiatan penanggulangan kusta yang didukung secara teknis dan finansial oleh Departemen Kesehatan dan Sub Direktorat Penanggulangan Kusta meluas hingga ke 22 provinsi.

NLR menyediakan tenaga ahli yang memberikan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan petugas kusta di tingkat pusat, propinsi, kabupaten dan desa.  Fokus utama adalah dalam hal perencanaan, monitoring, dan evaluasi program pengendalian kusta.

Pada tahun 1975, Pemerintah mendirikan Pusat Latihan Kusta Nasional (PLKN) di Makassar, Sulawesi Selatan dan PLKN menerima bantuan teknis dan finansial dari NLR. Berbagai kader petugas kesehatan dilatih kegiatan penanggulangan kusta melalui pelatihan singkat di PLKN.

Sejak tahun 1993, NLR mempunyai perjanjian kerjasama dengan Royal Netherlands Tuberculosis Association (KNCV) untuk aktif bergabung membantu secara teknis Program Penanggulangan Kusta dan Tuberkulosis di lima provinsi di Sulawesi.

Selama sepuluh tahun terakhir ini, NLR Indonesia juga telah membangun dan mengorganisir kelompok perawatan diri bagi orang yang mengalami atau pernah mengalami kusta, bekerja sama dengan staf kesehatan dan supervisor kusta. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup orang yang pernah mengalami kusta.

Selanjutnya penelitian kusta, beasiswa pendidikan pasca sarjana, kegiatan kesehatan masyarakat, rehabilitasi kusta dan dukungan kepada penyandang disabilitas merupakan sebagian dari beberapa bantuan yang diberikan oleh NLR di Indonesia. 

Setelah beberapa provinsi dinyatakan bebas kusta, saat ini NLR Indonesia fokus memberantas kusta di 13 provinsi.

Program NLR Indonesia

Stop Transmisi Kusta

Program ini berupaya mengurangi angka kasus baru kusta hingga nol dan mendeteksi kasus baru sedini mungkin sehingga tidak terjadi kecacatan. Penguatan kapasitas bagi para supervisor untuk kusta di tingkat propinsi/ kabupaten dilakukan.
Program ini dilakukan melalui Upaya Pencarian Kasus Intensif (ICF), Desa Sahabat Kusta, Mobile Leprosy (MLEP), Leprosy post-exposure prophylaxis (LPEP) dan Post Exposure Prophylaxis (PEP)++, serta teknologi SkinApp untuk pendeteksian dini kusta.

Pencegahan Disabilitas

Program ini berupaya mengembangkan model pendekatan gabungan bagi orang dengan disabilitas akibat kusta dan limfatik filariasis. Dari pilot proyek di beberapa kabupaten, hasilnya akan digunakan untuk lobi dan advokasi kebijakan pemerintah.

Pengembangan Inklusivitas Kaum dengan Disabilitas

Program ini mencoba meningkatkan kualitas hidup orang yang terdampak kusta dan disabilitas. Program ini dilakukan dengan pendekatan Twin-Track untuk pengembangan inklusivitas bagi kaum dengan disabilita melalui proyek pemberdayaan ekonomi, pengembangan anak dengan disabilitis, pengenalan tentang kesehatan seksual dan dukungan bagi anak dengan down syndrome

Stop stigma dan diskriminasi

Program ini merupakan cross-cutting di ketiga program sebelumnya. Edukasi dan advokasi tentang stigma dan diskriminasi dilakukan melalui kegiatan peningkatan kesadaran dan kapasitas, pelatihan, survey, riset dan artikel-artikel di mass media.

Strategi

  1. Melakukan percontohan pendekatan inovatif
  2. Peningkatan Kapasitas
  3. Peningkatan Pengetahuan
  4. Lobi dan Advokasi
  5. Membangun Jaringan

Proyek Utama Kami

  1. LEAP (Local Economic Development of People with Disability through Advocacy for Inclusive Policy), 2017-2020, Sulawesi Selatan, Donor: Netherlands Embassy
  2. PADI (Prioritaskan Anak dengan Disabilitas Indonesia), 2017-2021, Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, NTT dan Sulawesi Selatan, Donor: Lilane Foundations
  3. MBiM (My Body is Mine), 2018-2021, NTT. Donor: Liliane Foundation
  4. DS (Down Syndrome), 2017-2020, Jakarta, Donor: Liliane Foundation
  5. MIVA (Missionary Vehicle Association), 2017-2019, NTT dan Kalimantan .

Mitra kami

Kementerian Kesehatan, Subdit Kusta dan Frambusia dan Pengendalian kusta propinsi, komunitas orang dengan disabilitas, UNDIP, FARHAN, GPDLI, Permata, Beskar Bone, DSM, FKDC, Comparisson,YAMAKINDO, Ayo Indonesia, Dena Upakara, Karya Bakti, So Rehab Bali, Ibu Anfrida, Mitra Netra Sulsel, Alpha Omega, Sabatu, YPCM, PHDF, Sinar Pelangi, Santa Damian Cancar, Harapan Jaya, Semangat Mulia, Yayasan Kita Juga, PPRBM Solo, Santa Lsia Virgini, Bakti Lurur, YPPCK, KPD Lamongan, IDP, DBM, Permata NTT, Ayo Indonesia, Mitra Netra, YPCM, PHDF,